syukur atau kufur

on Selasa, 22 Februari 2011

Sebuah kata sederhana yang mungkin jarang kita gunakan dalam kehidupan

sehari-hari, tetapi seringkali kita praktekkan langsung baik secara

sadar maupun tidak sadar. Beberapa waktu lalu saya berkumpul dengan

teman-teman lama saya. Seperti biasanya kami membicarakan mengenai

pekerjaan, pasangan hidup, masa lalu, dan berbagai macam hal lainnya.

Setelah pulang saya baru tersadar, bahwa kami satu sama lain saling

berlomba untuk memamerkan keluhan kami masing-masing seolah-olah siapa

yang paling banyak mengeluh dialah yang paling hebat.

"Bos gue kelewatan masa udah jam 6 gue masih disuruh lembur, sekalian

aja suruh gue nginep di kantor!"

"Kerjaan gue ditambahin melulu tiap hari, padahal itu kan bukan

"job-des" gue"

"Anak buah gue memang bego, disuruh apa-apa salah melulu".

Kita semua melakukan hal tersebut setiap saat tanpa menyadarinya.

Tahukah Anda semakin sering kita mengeluh, maka semakin sering pula

kita mengalami hal tersebut. Sebagai contohnya, salah satu teman baik

saya selalu mengeluh mengenai pekerjaan dia. Sudah beberapa kali dia

pindah kerja dan setiap kali dia bekerja di tempat yang baru, dia selalu

mengeluhkan mengenai atasan atau rekan-rekan sekerjanya.

Sebelum dia pindah ke pekerjaan berikutnya dia selalu ribut dengan

atasan atau rekan sekerjanya. Seperti yang bisa kita lihat bahwa

terbentuk suatu pola tertentu yang sudah dapat diprediksi, dia akan

selalu pindah dari satu pekerjaan ke pekerjaan berikutnya sampai dia

belajar untuk tidak mengeluh.

Mengeluh adalah hal yang sangat mudah dilakukan dan bagi beberapa orang

hal ini menjadi suatu kebiasaan dan parahnya lagi mengeluh menjadi suatu

kebanggaan. Bila Anda memiliki dua orang teman, yang pertama selalu

berpikiran positif dan yang kedua selalu mengeluh, Anda akan lebih

senang berhubungan dengan yang mana? Menjadi seorang yang pengeluh

mungkin bisa mendapatkan simpati dari teman kita, tetapi tidak akan

membuat kita memiliki lebih banyak teman dan tidak akan menyelesaikan

masalah kita, bahkan bisa membuat kita kehilangan teman-teman kita.

Yang menjadi pertanyaan adalah mengapa kita mengeluh? Kita mengeluhkarena kita kecewa bahwa realitas yang terjadi tidak sesuai denganharapan kita.

Bagaimana kita mengatasi hal ini. Caranya sebenarnya gampang-gampang

susah, kita hanya perlu bersyukur. Saya percaya bahwa di balik semua hal yang kita

keluhkan PASTI ADA hal yang dapat kita syukuri.

Sebagai ilustrasi, Anda mengeluh dengan pekerjaan Anda. Tahukah Anda

berapa banyak jumlah pengangguran yang ada di Indonesia ?

Sekarang ini hampir 60% orang pada usia kerja produktif tidak bekerja,

jadi bersyukurlah Anda masih memiliki pekerjaan dan penghasilan. Atau

Anda mengeluh karena disuruh lembur atau disuruh melakukan kerja ekstra.

Tahukah Anda bahwa sebenarnya atasan Anda percaya kepada kemampuan Anda?

Kalau Anda tidak mampu tidak mungkin atasan Anda menyuruh Anda lembur

atau memberikan pekerjaan tambahan.

0 komentar: